30.6.08,23:50
#20 . 2008

Jika Tak Mampu Menulis Sajak Aku Mengingat

HUJAN. Sejak paham sepasang mataku dan langit
adalah dua hal yang sama aku sangat mencintainya.
Maka sebagaimana air mata, hujan adalah kata-kata.

RASA SAKIT. Ia menyiapkan buatku seliang lubang
untuk masuk merenung dan menemani diri sendiri.
Saat di mana aku dan kata-kata saling merindukan.

ENGKAU. Mengingatmu, hujan dari sepasang langitku.
Dan aku menikmati sekali lagi rasa sakit yang dulu itu.
Setelahnya aku dan kata-kata bertemu di dalam sajak.

 
posted by m aan mansyur
Permalink ¤ 1 comments
,12:56
#19 . 2008

Gula Hela

Pada mulanya aku duga kayu cendana
tetapi dia bilang sebungkus gula hela.

Gula ini hanya ada di kota ini. Manis,
tentu saja, terbuat dari sari buah lontar.

Apakah senyum istri tuan, juga manis?

Aku ingat kau sebagai jawaban pertanyaan
perempuan muda pembuat gula hela itu.

Dia bercerita padaku: gula hela tak bisa jadi
ketika pembuatnya didatangi menstruasi.
Paling manis tiga hari setelah bersihkan diri.

Bukankah istri tuan, juga seperti itu?

Aku tiba-tiba sungguh merindukan kau
dan perempuan muda pembuat gula itu
tersenyum paham. Sebelum pulang, aku beli
beberapa bungkus sebagai oleh-oleh buatmu.

 
posted by m aan mansyur
Permalink ¤ 0 comments
,12:17
#18 . 2008

Kupang

Sajak akan merusak Kupang, kota
yang aku datangi di ujung Juni ini.
Tetapi aku harus menuliskannya
sebab ingin aku ajak kau ke sana,
saat tiba bulan madu suatu kelak.

Di siang hari udara sungguh panas
selalu meminta kita jadi anak-anak
bermain-main air di kamar mandi.

Senja selalu berhenti di Kupang
lebih lama seperti sebuah kereta
di stasiun yang sepi penumpang.

Di malam hari cuaca dingin sekali
kita tidak bisa tidur tanpa pelukan.

Matahari pagi tiba di jendela kamar
dengan senyummu saudara kembar.

Sajak akan merusak Kupang, Sayang.
Kota ini lebih indah, jauh lebih indah,
dari semua kata yang bisa ditemukan
oleh sajak untuk menggambarkannya.

 
posted by m aan mansyur
Permalink ¤ 0 comments
20.6.08,15:20
#17 . 2008
Tiga Cara Menulis Sajak tentang Kau
Saat Berada di Sebuah Pulau yang Jauh


Di sini, di pulau yang jauh ini, aku sadari dua hal:
Aku pergi dari rumah hanya membawa sedikit bekal kata
dan kau telah menyimpan rindu di tiap ujung perjalananku.

Di kamar hotel, aku selalu mencari-cari cara menulis
sajak agar kelak aku bisa membawa pulang oleh-oleh:
beberapa sajak untukmu.

1.

Pintu dan seluruh jendela kamar hotel sengaja
aku biarkan terbuka sepanjang siang, Sayang.
Di atas sebuah meja kecil di dekat ranjang
aku siapkan pulpen dan sebuah buku catatan.
Agar langit yang bening, angin yang sejuk,
pantai berpasir seputih wajahmu, debur halus
ombak, juga jejeran pohon kelapa dan perahu
nelayan bisa masuk menulis diri mereka
di atas kertas-kertas lapang buku itu.

Sebelum tidur aku hanya perlu menuliskan
namamu di antara mereka. Ya, begitu saja.
Hanya sebuah sajak yang sungguh sederhana.

2.

Aku membayangkan diriku sebagai suami,
seorang nelayan tua dengan anak sekian.
Saban hari berjuang menerjang gelombang
dan membawa sekeranjang ikan saat pulang.

Di tubir pantai, kau aku bayangkan sebagai istri
dengan senyum paling hangat menyambutku tiba.
Kau bilang telah siap segelas kopi di rumah
dan anak-anak sedang main-main di halaman.

Aku tuliskan saja semua itu, sebab sungguh,
seperti selalu kau bilang, sesederhana itulah
cita-cita yang selalu kau rindukan. Seperti sebuah
sajak yang tidak dipenuhi kata-kata yang susah.

3.

Sebelum langit sore jadi merah sekali,
Anak-anak riang bermain di pantai.
Saling berkejaran dan lepas tertawa.

Aku dan kau, dua di antara mereka.
Aku lelaki kecil yang sungguh peragu,
kau gadis mungil yang sungguh pemalu.

Ketika tiba giliranku mengejar, aku sengaja
mengejarmu dan berusaha tak menangkapmu.
Aku biarkan kau menjauh dari anak-anak lain.

Di sebuah tempat, saat kau jatuh di ujung ombak
aku menangkapmu. Aku menatap dua matamu,
kau menunduk menatap pantulan wajahku di air.
Anak-anak lain menertawakan kita. Wajah kita
jadi merah seperti senja yang sebentar lagi tiba.

Bukankah peristiwa itu sudah jadi sajak
bahkan sebelum kata-kata menyentuhnya?
 
posted by m aan mansyur
Permalink ¤ 0 comments
17.6.08,11:00
#16 . 2008

Tato di Lengan Seorang Lelaki dari Saumlaki

Aku bertemu seorang lelaki dari Saumlaki di atas perahu
yang menyeberangkan aku dari satu pulau ke lain pulau.
Ia mengenakan satu tato berwarna ungu di bahu kanannya
bertuliskan nama perempuan, mungkin nama kekasihnya.

Tak ada seorang pun dilahirkan untuk jadi penyair di sini.
setiap lelaki hanya boleh memilih jadi pelaut atau petani
dan perempuan hanya jadi istri dan mencintai lelaki
melebihi cinta yang bisa mereka beri bagi diri sendiri.

Maukah, harap lelaki itu, tatoku ini kau jadikan sebuah sajak?
seorang tertidur di bahuku dan aku menjaganya dengan tato.
Kau tahu, seseorang yang tertidur di bahumu adalah beban,
tuliskanlah ke dalam sajak, agar kita bisa berbagi beban.

Setiap hari, katanya, aku melepas ikan-ikan ke tidurnya.
Aku ingin ikan-ikan itu memainkan ombak rambutnya.
Tak aku biarkan angin timur merusak pantai matanya.
Dan di dalam sajak kelak kau saksikan pohon kelapa
tumbuh berjejer menyerupai bulu mata paling indah.

Sesampai di pantai, aku tak menemukan satu pun kalimat
Aku tak bisa jadi penyair di sini. Di kamar hotel aku ingat
nama di bahu lelaki itu. Tapi kertas di depanku cuma kertas
kosong seperti tidur tak dikunjungi mimpi, tidur yang tak berisi
ikan yang sedang bermain-main di ombak rambut perempuan itu.

 
posted by m aan mansyur
Permalink ¤ 0 comments
4.6.08,3:35
#15 . 2008

Berempat di Balkon Belakang

--bersama Jamil, Dedy dan Achy

Ini tempat pengungsian. Di ruang tengah dan ruang tamu,
di halaman dan di jalanan orang-orang sedang berperang.

Tidak boleh ada di antara kita yang membawa serta suara-suara
senjata ke tempat ini. Di sini kita berempat hanya boleh tertawa.

Jika sudah puas tertawa, seseorang boleh memulai membaca puisi
atau menyanyi. Tetapi jangan puisi dan lagu sedih. Dilarang keras!

Ini tempat persembunyian. Di luar tempat ini, orang-orang biarkan
saling membunuh. Di sini kita berempat merdeka dari kepedulian.

Tuang lagi minumannya ke gelas! Sulut lagi batang-batang rokok!
Tempat ini harus sungguh-sungguh jauh dari seluruh riuh huru-hara.

Biarkan matahari sore tenggelam! Biarkan pagi bertukar malam!
Ayo, tertawa lebih keras! Ayo, tertawa lebih keras! Lebih keras!

Ini tempat beristirahat. Kali ini kita berkawan dengan keriangan.
Setelah tandas semua gelas, rokok dan tawa, kita akan menangis.

Seseorang akan datang dan menangkap basah kita sedang mabuk.
Menyeret dan memaksa kita kembali ke jalanan menikmati perang.

Kita berempat akan dipisah-pisahkan, seperti kata-kata dibongkar
dari sebuah puisi sederhana yang pernah mencoba menyatukannya.

Kita akan mengenang tempat ini, tempat yang menyimpan tawa,
puisi, nyanyian, aroma minuman dan asap rokok kita selamanya.

 
posted by m aan mansyur
Permalink ¤ 1 comments
,2:48
#14 . 2008

Menulis Tangis

Kata orang, aku sangat gampang terharu. Ucapan-ucapanku dipenuhi
keharuan yang tidak dibutuhkan. Aku mewarisi dari siapa sifat itu, Ibu?

Tetapi, katamu dulu, anakku tidak boleh menjadi seorang penyair.
Makanya aku tidak pernah menulis puisi. Aku hanya memindahkan
kesedihan yang tidak bisa ditampung tubuhku ke dalam kata-kata
sederhana. Aku tidak pernah menulis puisi. Aku tak mau durhaka, Ibu.

Mungkin benar, tubuhku memiliki urat syaraf haru yang berlebihan.

Tanganku bisa menangis. Kakiku, lenganku, pundakku bisa menangis.
Di setiap akar bulu dan rambutku ada kelenjar air mata. Di perutku,
di dadaku, di pinggang dan punggungku juga ada kelenjar air mata.
Kepala dan otakku adalah pabrik-pabrik yang menghasilkan air mata.
Pipa-pipa pembuluh darahku adalah sungai yang selalu banjir air mata.
Di jantung dan hatiku ada bendungan air mata yang sangat mudah jebol.

Dan sepasang mataku, seperti yang selalu kau bilang, adalah sekolah
tempat langit belajar menciptakan musim hujan. Ibu, apakah itu salah?

Aku lahir dari rahimmu, Ibu, dan menangis saat pertama kau menyentuh
tubuhku. Saat itu, saat aku lahir, dunia memang sudah seperti sekarang,
tidak tahu membuat orang-orang tertawa. Apalagi aku yang lahir darimu,
seorang yang semakin hari semakin ceroboh menyimpan kesedihannya.
Aku lahir dari sebuah keluarga yang memilih belajar mencintai kesedihan
daripada menghentikannya. Semua kisah itu, kau ceritakan padaku, Ibu.

Tetapi mengapa orang-orang menganggapku lemah dan bermasalah, Ibu.
Mengapa mereka menertawai kata-kataku yang dipenuhi kesedihan itu.

Aku hanya ingin bersedih melihat semua peristiwa yang terjadi di sekitarku.
Orang-orang memamerkan deretan giginya bukan untuk tersenyum, Ibu,
tetapi sedang bersikeras menyembunyikan kesedihannya. Itu sungguh
menyedihkan bagiku. Foto-foto di iklan dan poster-poster kampanye juga
seolah-olah tersenyum, tetapi aku mampu melihat air mata di balik tebal
bedak mereka. Dan semua itu tidak bisa mencegah aku untuk tidak menangis.
Dan alangkah menyedihkan jika tidak ada yang mau menangisi suara tangis
yang memenuhi jalan-jalan, perkampungan, udara, radio dan televisi itu, Ibu!

Ibu, sekarang aku lebih banyak menulis. Aku bersahabat dengan kata-kata.
Semua kata-kata meminjam air mata dari tubuhku. Aku sudah bisa sedikit
demi sedikit tidak menangis di depan orang-orang. Tetapi saat malam tiba,
saat orang-orang tertidur aku bangun dan membangunkan kata-kata
dan mengajaknya menangis bersama. Tetapi aku tidak pernah menulis
puisi. Aku tak mau durhaka, Ibu. Aku dan kata-kata hanya menuliskan
tangisan-tangisan kami yang sederhana. Aku tak mau durhaka, Ibu.

 
posted by m aan mansyur
Permalink ¤ 0 comments